Tampilkan postingan dengan label RUANG KONTEMPLASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUANG KONTEMPLASI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 November 2008

GUS MUS:

DUNIA SERBA TUHAN ATAWA TUHAN SEMAKIN BANYAK
21 April 2008 10:58:19

Di mana-mana semakin banyak tuhan
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di JEpang dan Cina
Di Korea dan Pilipina

Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia Di Afrika dan Australia
Di NATO dan PAlta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia

Dimana-mana tuhan, ya Tuhan
Disini pun semua serba tuhan
Disini pun tuhan merajalela
Memenuhi desa dan kota
Mesjid dan gereja
Kuil dan pura
Menggagahi mimbar dan seminar
Kantor dan sanggar
Dewan dan pasar
Mendominasi lalu lintas
Orpol dan ormas
Swasta dan dinas

Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan
Pernyataanku pernyataan tuhan!
Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan!
Keputusanku keputusan tuhan!
Pikiranku pikiran tuhan!
Pendapatku pendapat tuhan!
Tulisanku tulisan tuhan!
Usahaku usaha tuhan!
Khutbahku khutbah tuhan!
Fatwaku fatwa tuhan!
Lembagaku lembaga tuhan
Jama’ahku jamaah tuhan!
Keluargaku keluarga tuhan!
Puisiku puisi tuhan!
Kritikanku kritikan tuhan!
Darahku darah tuhan!
Akuku aku tuhan!
Ya Tuhan!

1987+1429

Selasa, 11 November 2008


Hidup Seperti Angka 1 dan 0


Hidup ini mungkin seperti angka 1 dan 0.
Adakalanya kita harus berdiri, beraksi dan menempatkan posisi.

Adakalanya juga kita harus berdiam diri, bertafakkur, dan merumuskan rencana-rencana. Seperti juga air laut, ada pasang ada surut, kadang tenang, kadang juga bergelombang.
Berdiam dan beraksi adalah wujud totalitas aktualisasi citra diri, sebagai upaya menciptakan ruang artikulasi, dengan apa dan cara bagaimana kita hendak menyelesaikan setiap persoalan . Karena hidup memang lebih berwarna-warni justru karena banyaknya persoalan yang timbul tenggelam.
Lalu setelah itu kita butuh jeda waktu untuk sekadar merenung, berhalaqah, mengaji bersama untuk menemukan gairah baru. Merumuskan kesadaran baru dengan seperangkat rencana yang lebih konseptual. Untuk itu kita perlu ‘melingkar’ bersama, saling mengisi dan berbagi, menyambungkan nalar dan hati kita.
Duduk melingkar dan bertafakkur adalah gambaran nyata kebutuhan kita akan dialektika kesadaran. Sebagai jeda, spasi (jarak) dalam gramatika arus lalu-lintas komunikasi verbal yang makin hari makin ruwet saja. Betapa tidak, memori kita selalu dipaksa mengingat sesuatu yang kadang tidak selalu perlu. Juga menjadi terbiasa untuk merekam peristiwa yang lebih ‘keji’ dan ‘sadis’ dari peristiwa sebelumnya. Tragedy hari ini akan segera sirna dari medan persepsi kita, karena pasti akan tergantikan dengan tragedy lain yang lebih mengerikan.
Sialnya lagi, diam-diam kita telah menganggap kengerian-kengerian itu sebagai sesuatu yang ‘nikmat’ untuk disimak! Perlahan namun pasti, arus waktu telah menyeret dan menghanyutkan nurani kita. Dengan cara apa kita sering bertindak, dengan nilai-nilai apa kita tergerak?